SELAMAT ULANG TAHUN KABUPATEN MANOKWARI SELATAN YANG KE 5.

Diserang Hama, Petani Tinggalkan Lahan

Oransbari– Lahan seluas 40 hektar di Kampung Muari, Distrik Oransbari, Kabupaten Manokwari Selatan kini menjadi lahan tidur, setelah ditinggalkan petani akibat hama yang menyerang tanaman padi mereka. Mantan Penyulu WKPP Muari, Ahmad Amir menuturkan, sejak awal panen mampu menghasilkan 8 ton gabah  kering per hektarnya. Namun perlahan lahan tersebut mulai tidak cocok dengan tanaman padi.

Kini tinggal seorang petani yang masih bertahan dengan tanaman padi. Sebagian kecil lahan memang masih dimanfaatkan petani lainnya, tetapi sebagai lahan perkebunan, selebihnya menjadi lahan tidur.

Ahmad Amir menyampaikan, gangguan hama yang ada di kawasan ini semacam penyakit kanker pada manusia. Awalnya hanya 8 hektar lahan yang terganggu, menyebar dan akhirnya hampir semua kawasan ikut terkena. Dia khawatir hama yang membuat produksi menurun ini semakin menyebar hingga ke seluruh kawasan persawahan di wilayah Oransbari. “Waktu baru di buka, musim pertama dan musim ke dua itu, hasilnya sangat bagus, petani bahkan mendapatkan hasil sampai 8 ton gaba kering panen  per hektar, tapi masuk musim ke tiga, khusus untuk lahan sekitar 8 hektar ini langsung menurun, tinggal 4 ton, dan terus menurun hingga 2 ton pada musim ke empat,” jelasnya.

Ia lanjut menjelaskan, terutama kawasan yang ada di sekitar hutan mangrove, setelah ia dipindah tugaskan, dirinya tak lagi memantau perkembangan kawasan di Kampung Muari, sampai terakhir ia kembali meninjau lokasi itu untuk tujuan penelitian. Kalau dulu yang saya tau, ada 8 hektar yang bermasalah, dan justru yang ada di bagian tengah, yang bagian agak ke laut yang dekat dengan hutan mangrove malah bagus, tapi ternyata sekarang malah sudah tidak ada yang olah sama sekali,” terangnya.

Penuturan mantan penyulu di Kampung Muari ini dibenarkan petani lainnya, Muktar, yang memiliki lahan yang haraknya tidak begitu jauh dari kawasan tersebut. Muktar mengungkapkan, tanam yang mereka tanam bukan bertambah hijau melainkan semakin menguning, dan akhirnya layu. Perlahan penyakit tersebut menyebar dari lahan yang satu ke lahan yang lainnya, sampai akhirnya para petani meninggalkan lahan tersebut.

Muktar juga mengatakan, meski penyakit yang membuat bibit padi malah bertambah kuning belum terjadi di lahan miliknya yang memang tidak satu kawasan, namun penurunan produksi sudah mulai nampak sekali. Sebagai contoh, dirinya yang sebelumnya pernah mendapatkan hasil 6 ton beras untuk lahan satu hekarnya, sudah semakin menurun sampai pada panen terkahir kemarin tinggal mendapatkan hasil satu ton lebih. “Di lahan yang kami olah, meski penyakit menguning belum ada, tapi penurunan produksi sudah sangat jauh sekali, saya dulu pernah panen 6 ton beras, terus menurun sampai sekarang tinggal satu ton lebih,” akunya.

Terkait kondisi lahan di Kampung Muari ini lanjut Amir, beberapa tahun silam pernah ada tim dari UGM untuk melakukan penelitian, hanya saja sampai saat ini hasil penelitian tersebut belum pernah disosialisasikan. “Waktu gangguannya baru mulai nampak, sudah ada tim yang datang melakukan riset, mereka dari UGM dan didampingi salah satu dosen dari Faperta Uncen (kini UNIPA), tapi hasil penelitiannya tidak pernah disosialisasikan,” terangnya. (Diskominfo Mansel/*)